Contoh Jurnal Pembelajaran Sosial Emosional

 JURNAL PEMBELAJARANKU - PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Nama : Yanti Parida

LPTK : Universitas Ahmad Dahlan

Jurusan : Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi Guru Tertentu Tahap 1

Tahun 2024

JUDUL : MENERAPKAN RENCANA PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

A. PENDAHULUAN

Setelah saya mempelajari materi Pembelajaran Sosial Emosinal di Platform Merdeka Mengajar (PMM) untuk peserta Piloting Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Guru Tertentu, saya berencana untuk menerapkan pembelajaran berbasis sosial emosional di kelas saya yaitu di Kelas VI SDN 2 Karyamukti sesuai dengan wawasan baru yang sudah saya dapatkan.

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan proses penting yang membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan serta sikap untuk memahami dirinya sendiri, mengelola emosi, berempati, dan membangun hubungan yang positif. Dengan mengintegrasikan PSE dalam kegiatan pembelajaran, saya yakin dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan holistik peserta didik serta meningkatkan kesejahteraan psikologis seluruh satuan pendidikan. Pembelajaran yang didasari prinsip sosial emosional ini tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pengembangan keterampilan sosial emosional yang esensial untuk kehidupan para peserta didik.

B. PENGERTIAN PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL (PSE)

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yaitu sebuah proses di mana kita dapat memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk mengembangkan identitas yang sehat, mengelola emosi, mencapai tujuan pribadi dan kolektif, merasakan dan menunjukkan empati terhadap orang lain, membangun dan memelihara hubungan yang mendukung, serta membuat keputusan yang bertanggung jawab dan penuh rasa kepedulian. PSE terdiri dari 5 (lima) kompetensi utama, yakni : 1) kesadaran diri, 2) manajemen diri, 3) kesadaran sosial, 4) keterampilan berhubungan, dan 5) pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Inilah penjelasan dari 5 kompetensi utama adalah sebagai berikut :

1. Kesadaran Diri (Self-Awareness) merupakan kemampuan untuk memahami dan mengenali emosi, pikiran, dan nilai-nilai pribadi yang mempengaruhi perilaku. Ini termasuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri, serta bagaimana perasaan dan reaksi pribadi mempengaruhi interaksi dengan orang lain.

2. Manajemen Diri (Self-Management) juga merupakan kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku secara efektif dalam berbagai situasi. Ini mencakup kemampuan untuk

mengatur stres, mengendalikan dorongan, dan menjaga motivasi untuk mencapai tujuan pribadi dan profesional.

3. Kesadaran Sosial (Social Awareness) yakni kemampuan untuk memahami perspektif dan emosi orang lain serta berempati terhadap mereka. Ini termasuk mengenali dan menghargai keberagaman budaya dan latar belakang serta memahami dinamika sosial dalam kelompok.

4. Keterampilan Berhubungan (Relationship Skills) adalah kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan yang sehat dan mendukung dengan orang lain. Ini meliputi keterampilan komunikasi, kerja sama, resolusi konflik, dan membangun hubungan yang positif dalam berbagai situasi sosial.

5. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making) juga merupakan kemampuan untuk membuat pilihan yang konstruktif dan bermanfaat dalam berbagai situasi. Ini mencakup mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan, mengevaluasi berbagai opsi, dan membuat keputusan yang mendukung kesejahteraan diri dan orang lain.

Setiap kompetensi ini saling berkaitan dan penting untuk diterapkan di dalam pembelajaran di berbagai fase.

C. PENERAPAN PSE DALAM PEMBELAJARAN DAPAT DILAKUKAN MELALUI :

a. Pembukaan yang hangat, misalnya menyambut siswa dengan senyuman dan sapaan, menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung.

b. Kegiatan melibatkan siswa, contohnya menggunakan metode pembelajaran yang interaktif seperti bermain peran, diskusi kelompok, dan aktivitas refleksi diri.

c. Dan mengakhiri pelajaran dengan kegiatan yang positif, memberikan pujian, dan mendorong siswa untuk menerapkan keterampilan yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Jika dilakukan dengan tepat, penerapan pembelajaran sosial emosional juga akan dapat proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila. Misalnya pada dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang tercantum dalam Profil Pelajar Pancasila tersebut, kompetensi kesadaran diri dapat membantu peserta didik dapat memahami dan menginternalisasi nilai-nilai spiritual, sementara keterampilan sosial mendukung siswa dalam membangun hubungan yang positif dan lerja sama.

Rancangan Pembelajaran dengan Prinsip Pembelajaran Sosial Emosional
Berikut ini adalah rancangan pembelajaran dengan prinsip Pembelajaran Sosial Emosional yang saya terapkan di kelas.
Mata Pelajaran     : Bahasa Indonesia
Kelas                    : 6
Topik                    : Memahami teks dan cerita anak yang dibacakan/didengar
Tujuan Pembelajaran:
• Melalui cerita anak yang diperdengarkan, siswa mampu mengidentifikasi cerita anak dengan tepat.
• Melalui cerita anak yang diperdengarkan, siswa dapat menyimpulkan pertanyaan sesuai dengan ceita yang didengar dengan tepat.
Pembukaan (15 menit)
• Kegiatan: Pembukaan yang Hangat
o Guru menyapa setiap siswa dengan senyuman dan kata sapaan seperti "Selamat pagi, anak-anak!".
o Guru mengajak siswa untuk duduk dalam lingkaran dan menyapa teman di sebelahnya dengan kata sapaan yang sopan.
o Guru mengucapkan terima kasih kepada siswa yang telah datang dengan semangat dan mengingatkan pentingnya saling menyapa dengan sopan.
1. Guru mengondisikan siswa agar siap menerima materi ajar.
“Selamat pagi, namo buddahaya. Anak-anak sudah siap untuk memulai pelajaran hari ini?”
Karakter siswa : Rasa hormat dan perhatian
2. Guru melakukan apersepsi dengan tanya jawab tentang pelajaran yang akan diterima dan menyampaikan SK dan KD nya.
“Hari ini kita akan belajar mengenai apa itu pengertian dari cerita anak beserta unsur-unsurnya. Namun, sebelumnya Bapak ingin menanyakan apakah di sini sudah pernah mengikuti ujian mendengarkan?”
Karakter siswa : Percaya diri
3. Guru menyampaikan prosedur pembelajaran yakni menjelaskan materi serta tahap yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran hari ini.
“Hari ini ibu akan menjelaskan pengertian cerita anak kemudian ibu akan jelaskan apa saja unsur dalam cerita anak, setelah itu ibu akan berikan kalian latihan-latihan soal”
Karakter siswa : Perhatian dan Antusias
Kegiatan Inti (40 menit)
Kegiatan 1: Mengenalkan Kata Sapaan (10 menit)
o Siswa diberikan penjelasan tentang cerita anak dan unsur-unsurnya
o “Cerita anak memiliki berbagai unsur dan unsur ini sama halnya dengan unsur dalam karya-karya yang lain yaitu tokoh, latar amanat dan lain-lain”.
o Karakter siswa : Perhatian, Antusias, dan Tekun
Kegiatan 2: Bermain Peran (15 menit)
o Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil.
o Setiap kelompok diberikan situasi tertentu (misalnya, tentang cerita anak) dan diminta untuk bermain peran “kelompok satu menceritakan isi cerita kelompok lain mendengarkan” sesuai yang telah diajarkan.
o Setiap kelompok akan menampilkan hasil bermain peran mereka di depan kelas.
o Siswa mendengarkan cerita anak yang dibacakan guru/dari rekaman.
o “Sekarang silakan dengarkan rekaman berikut dengan cermat”
o Karakter siswa : Perhatian dan Antusias
Kegiatan 3: Diskusi Kelompok (15 menit)
o Siswa duduk dalam lingkaran besar dan mendiskusikan pengalaman mereka tentang unsur cerita anak yang dibacakan.
o Guru mengajukan pertanyaan seperti "Bagaimana ketika teman kamu membaca isi bacaan?", "Apa yang kamu lakukan jika temanmu menceritakan kembali isi bacaan?".
o Siswa diminta untuk berbagi pengalaman dan memberikan pendapat mereka.
o Siswa mengidentifikasi unsur-unsur cerita anak yang dibacakan.
o “Baik setelah tadi kalian mendengarkan rekaman kemudian selanjutnya adalah menjawab pertanyaan yang telah disediakan di buku paket kalian”
o Karakter siswa : Tekun, Disiplin, dan Teliti.
Kegiatan Penutup (10 menit)
Kegiatan: Penutup yang Membuat Siswa Optimis
o Guru memberikan pujian kepada seluruh siswa atas partisipasi mereka dalam pembelajaran.
o Guru menyimpulkan pelajaran dengan menekankan pentingnya penggunaan kata sapaan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana hal ini membantu membangun hubungan yang baik.
o Guru mengajak siswa untuk berjanji menggunakan kata sapaan yang sopan setiap hari.
o Guru menutup pelajaran dengan permainan singkat "Sapaan Berantai", di mana satu siswa memulai dengan menyapa temannya, dan temannya melanjutkan menyapa siswa berikutnya, hingga seluruh kelas telah disapa.

Penerapan dan Refleksi
Ketika saya menerapkan rancangan pembelajaran di atas di kelas 6 SDN 2 Karyamukti Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut, siswa tampak antusias dan terlibat aktif dalam setiap kegiatan. Mereka memahami cerita yang dibacakan oleh temannya, dan menunjukkan peningkatan dalam kesadaran diri dan sosial mereka. Suasana kelas menjadi lebih positif dan mendukung.
FOTO DOKUMENTASI MENGAJAR DI DALAM KELAS
Dari kondisi yang saya hadapi, saya jadi tahu bahwa siswa kelas 6 yang saya ampu sangat responsif terhadap pendekatan pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan. Mereka lebih mudah memahami konsep melalui pendengaran dan bermain peran. Dan yang paling penting, mereka menunjukkan peningkatan dalam kesadaran sosial dan empati dari kegiatan yang saya lakukan.

Berdasarkan hal tersebut, saya akan terus menggunakan pendekatan pembelajaran yang interaktif dan melibatkan siswa secara aktif. Saya akan mencoba memperluas metode pembelajaran dengan menambahkan lebih banyak aktivitas bermain peran dan diskusi kelompok. Pendekatan ini akan membantu siswa mengembangkan kesadaran diri, manajemen diri, dan keterampilan sosial mereka, serta mendukung pengembangan karakter yang baik sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.

Saya sebagai teacher/guru, mendengarkan dan visualisasi adalah hal yang sangat memegang peranan, selain mengajukan pertanyaan yang memacu pemikiran yang kreatif cukup banyak memegang peranan.

Pada dasarnya seorang guru, bisa membuat peserta didik :
1. Menentukan target aya yang harus dikerjakan
2. Memahami dukungan dan hambatan
3. Mencari alternative
4. Membuat strategi pemecahan masalah
5. Menetapkan tindakan yang akan di lakukan
6. Menemukan ide dan solusi dengan coaching/pembinaan
Dari pengalaman mengajar dalam kelas, ternyata proses mendengarkan merupakan hal yang amat besar peranannya terhadap keberhasilan suatu proses coaching terhadap seluruh siswa. Selain itu sikap saya sebagai guru sekaligus sebagai coach yang cukup menunjang adalah sikap yang simpati, ramah, ikut menghayati kondisi peserta didik, bertanya, berbagi dan memberi semangat.
Jadi, dari proses pembinaan (coaching), penemuan “AHA” adalah yang amat diharapkan dan amat menyenangkan, baik guru (coach) maupun peserta didik yang dibina (coachee).

Umpan Balik dari Rekan Guru
Ketika saya menerapkan pembelajaran di atas, terdapat beberapa rekan guru yang saya minta untuk melakukan observasi atau mengati bagaimana kelas berlangsung ketika saya mengajar.
Berikut ini adalah umpan balik dari rekan guru ketika saya menerapkan pembelajaran sosial emosional di kelas:
Nama     : Awal Hudaeva Valentino, S.Pd
Kabatan : Guru Kelas 5

Selengkapnya dapat Bapak Ibu lihat pada tayangan berikut ini.

 


Semoga membantu Bapak Ibu yang sedang melaksanakan Program Pendidikan Guru (PPG) dalam membuat laporan jurnal pembelajaran, dan Jurnal Pembelajaranku-Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang saya buat ini dapat membantu sebagai referensi, sehingga memperlancar dalam penyususan muali dari awal sampai selesai tidak ada kendala yang berarti.
Semoga saja mendapat kelancaran. Aamiin


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »